Fenomena Beli Coklat Berhadiah Kondom

Bagi mereka yang merayakan valentine day Bulan Februari merupakan hari yang mereka tunggu-tunggu karena mereka baru belajar kasih sayang pada tanggal tersebut dan selain hari itu mungkin rasa kasih sayang hilang dari diri mereka. Mengapa untuk menunjukkan rasa kasih sayang harus mennunggu tanggal 14 Februari ?

Bukankah tiap hari kita harus berkasih sayang untuk menciptakan keharmonisan dan ketenangan dalam hidup ini. Coba pembaca bayangkan kalau dalam hidup ini tidak memiliki dan mendapatkan kasih sayang ?

Di tengah riuhnya dan dekatnya hari valentine day, penjual coklat pun jeli memanfaatkan peluang ini. Hari valentine yang identik dengan pemberian coklat diberi bonus kondom gratis. Mengapa mereka diberi bonus kondom ? apakah tidak ada bonus yang bisa berlaku umum ?

Coba bayangkan kalau yang membeli coklat tersebut adalah
seorang anak kecil. Apakah kita akan mengajarkan penggunaan kondom ? Bagaimana menjawab pertanyaan dari anak kecil tersebut yang bisa jadi akan terus bertanya soal kondom hadiah dari pembelian coklat tersebut.

Fenomena beli coklat berhadiah komdom yang rame saat ini ternyata kejadian serupa sudah pernah terjadi 2 tahun lalu. Apakah ini menandakan sudah hilangnya rasa rasa saling melindungi sehingga fenomine pembelian coklat berhadiah koncom kembali merebak.

Berikut link yang penulis temukan terkait penjualan coklat dengan bonus kondom yang beredar 2 tahun lalu : jpnn.com/read/2013/02/14/158321/Coklat-Berhadiah-Kondom-Beredar-di-Minimarket

Fenomena penjualan coklat gratis kondom bisa jadi akan kembali terulang apabila regulasi dan peraturan penjualan kondom tidak serius dibuat dan penjualannya tidak di kontrol dengan ketat.

Apakah kita hanya akan mementingkan keuntungan materi dengan melupakan aspek sosial dari pekerjaan kita ? Apakah kita juga tinggal diam terhadap fenomena penjualan coklat gratis kondom ini ?

Penulis blog baweh belajar menulis online menulis fenomena ini sebagai wujud keprihatinan dari fenomena ini. Mari sama-sama melindungi generasi penerus dari gempuran serangan negatif bagi generasi muda bangsa Indonesia.